Monday, 9 February 2026

5 Puisi Pendek puitis dari cerpen terkenal

1. Seorang Gelandangan

Penampilannya selaput bunga matahari,

terhempas layu di tangan manusia,

kusam oleh debu dan sisa hari

yang tak sempat dipeluk harapan.


Namun pandangannya tak pernah berbohong.

Di balik pakaian compang-camping itu,

ada langit yang masih menyala,

ada doa yang berdiri tegak, tak runtuh.


Ia melangkah—derap semalam kencang,

menantang dingin dan lapar yang akrab.

Wajahnya tak asing bagi jalanan,

tapi jiwanya asing bagi keputusasaan.


Matanya berbinar,

seolah berkata:

hidup boleh merampas segalanya,

kecuali keberanian untuk tetap menjadi manusia.


2. Surau yang Sunyi

Di sudut kampung

surau itu berdiri kecil,

dindingnya hafal doa

namun lupa pada lapar manusia.


Seorang tua bersujud

sepanjang hidupnya,

menghitung pahala

tanpa pernah menengok tetangga

yang menjerit diam-diam.


Langit tak marah,

hanya bertanya:

untuk siapa ibadah

jika sesama dibiarkan jatuh?


Ketika surau itu runtuh,

yang roboh bukan kayu dan paku,

melainkan kesalehan

yang tak pernah belajar mencinta.


Tuhan tetap Maha Luas,

manusia sajalah

yang sering menyempitkan-Nya.



3. Senyum di Tengah Beban

Di punggungnya,

keranjang bambu berisi hutang dan hari esok,

langkahnya tertatih

menyusuri tanah yang tak pernah ramah.


Keringat jatuh seperti doa

yang tak sempat diucap,

namun bibirnya tetap menyimpan senyum—

bukan karena bahagia,

melainkan karena ia sudah terlalu lelah

untuk mengeluh.


Dunia tak pernah bertanya

seberapa berat beban itu,

ia hanya menuntut berjalan

meski kaki ingin menyerah.


Dan Karyamin tersenyum,

sebab jika air mata jatuh,

ia tak punya waktu

untuk memungutnya kembali.



4. Perempuan yang Menyimpan Langit

Ia bernama Sri,

hidupnya seperti tanah sawah:

dipijak musim,

diterpa nasib,

namun tetap memberi.


Tak banyak kata keluar dari bibirnya,

sebab luka tak selalu perlu suara.

Ia belajar diam

agar dunia tak runtuh sepenuhnya.


Kesedihan datang bertubi,

suami, anak, dan keyakinan

pernah ia genggam

lalu satu per satu dilepaskan

dengan tangan gemetar.


Namun Sri tetap berdiri,

menyimpan langit di dadanya,

menata sabar seperti sembahyang,

tanpa pernah meminta

hidup berlaku adil.


Keteguhannya bukan keras,

melainkan pasrah yang berani.



5. Sepotong kayu

Ia datang membawa kayu,

bukan emas, bukan pujian,

hanya sepotong niat

yang dipikul dari jalan sunyi.


Tangannya kasar oleh hidup,

namun hatinya lapang

tak pandai menghitung pahala,

hanya tahu memberi

tanpa suara.


Di rumah ibadah yang megah,

orang berlomba menyebut nama Tuhan,

sementara ia meletakkan kayu itu

diam-diam,

lalu pulang dengan langkah ringan.


Tuhan tak menimbang besar kecilnya,

Ia membaca ketulusan

yang tak sempat disebutkan.


Dan kayu itu,

lebih berat maknanya

daripada seribu kata suci

yang lupa pada sesama.

No comments:

Post a Comment

5 Tools AI Video Gratis yang Wajib Dicoba Kreator Pemula

  5 Tools AI Video Gratis yang Wajib Dicoba Kreator Pemula (Lengkap dengan Link) AI video generator sekarang jadi solusi paling praktis buat...