1. Seorang Gelandangan
Penampilannya selaput bunga matahari,
terhempas layu di tangan manusia,
kusam oleh debu dan sisa hari
yang tak sempat dipeluk harapan.
Namun pandangannya tak pernah berbohong.
Di balik pakaian compang-camping itu,
ada langit yang masih menyala,
ada doa yang berdiri tegak, tak runtuh.
Ia melangkah—derap semalam kencang,
menantang dingin dan lapar yang akrab.
Wajahnya tak asing bagi jalanan,
tapi jiwanya asing bagi keputusasaan.
Matanya berbinar,
seolah berkata:
hidup boleh merampas segalanya,
kecuali keberanian untuk tetap menjadi manusia.
2. Surau yang Sunyi
Di sudut kampung
surau itu berdiri kecil,
dindingnya hafal doa
namun lupa pada lapar manusia.
Seorang tua bersujud
sepanjang hidupnya,
menghitung pahala
tanpa pernah menengok tetangga
yang menjerit diam-diam.
Langit tak marah,
hanya bertanya:
untuk siapa ibadah
jika sesama dibiarkan jatuh?
Ketika surau itu runtuh,
yang roboh bukan kayu dan paku,
melainkan kesalehan
yang tak pernah belajar mencinta.
Tuhan tetap Maha Luas,
manusia sajalah
yang sering menyempitkan-Nya.
3. Senyum di Tengah Beban
Di punggungnya,
keranjang bambu berisi hutang dan hari esok,
langkahnya tertatih
menyusuri tanah yang tak pernah ramah.
Keringat jatuh seperti doa
yang tak sempat diucap,
namun bibirnya tetap menyimpan senyum—
bukan karena bahagia,
melainkan karena ia sudah terlalu lelah
untuk mengeluh.
Dunia tak pernah bertanya
seberapa berat beban itu,
ia hanya menuntut berjalan
meski kaki ingin menyerah.
Dan Karyamin tersenyum,
sebab jika air mata jatuh,
ia tak punya waktu
untuk memungutnya kembali.
4. Perempuan yang Menyimpan Langit
Ia bernama Sri,
hidupnya seperti tanah sawah:
dipijak musim,
diterpa nasib,
namun tetap memberi.
Tak banyak kata keluar dari bibirnya,
sebab luka tak selalu perlu suara.
Ia belajar diam
agar dunia tak runtuh sepenuhnya.
Kesedihan datang bertubi,
suami, anak, dan keyakinan
pernah ia genggam
lalu satu per satu dilepaskan
dengan tangan gemetar.
Namun Sri tetap berdiri,
menyimpan langit di dadanya,
menata sabar seperti sembahyang,
tanpa pernah meminta
hidup berlaku adil.
Keteguhannya bukan keras,
melainkan pasrah yang berani.
5. Sepotong kayu
Ia datang membawa kayu,
bukan emas, bukan pujian,
hanya sepotong niat
yang dipikul dari jalan sunyi.
Tangannya kasar oleh hidup,
namun hatinya lapang
tak pandai menghitung pahala,
hanya tahu memberi
tanpa suara.
Di rumah ibadah yang megah,
orang berlomba menyebut nama Tuhan,
sementara ia meletakkan kayu itu
diam-diam,
lalu pulang dengan langkah ringan.
Tuhan tak menimbang besar kecilnya,
Ia membaca ketulusan
yang tak sempat disebutkan.
Dan kayu itu,
lebih berat maknanya
daripada seribu kata suci
yang lupa pada sesama.
No comments:
Post a Comment