Cerpen Remaja - Coretan Hidupku
Namaku Hima.
Katanya, aku murid bandel.
Lucu sih, karena aku sendiri nggak pernah merasa melakukan hal yang benar-benar “bandel”. Aku tetap datang ke sekolah, duduk di kelas, mendengarkan guru—meski kadang pikiranku ke mana-mana—lalu pulang. Nilai-nilaiku juga biasa saja. Nggak buruk, tapi juga nggak pernah cukup untuk dibanggakan.
Tapi entah kenapa, label itu tetap nempel.
“Murid bandel.”
Mungkin… karena tanganku nggak pernah bisa diam.
Ujung pulpenku selalu bergerak, meninggalkan garis-garis acak di meja, di buku, bahkan di tembok kalau lagi nggak ada yang lihat. Coretan-coretan itu bukan gambar yang jelas, tapi juga bukan asal gores. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang bahkan aku sendiri belum mengerti.
Mungkin… itu caraku merasa ada.
“Hima!”
Suara Bu Guru memecah lamunanku.
Aku tersentak. Tanganku masih memegang pulpen, dengan meja penuh coretan kecil.
“Itu kamu lagi coret-coret meja?!”
Aku nyengir kecil. “Maaf, Bu… nggak sadar.”
Beberapa teman mulai berbisik. Aku bisa dengar mereka, meski pelan.
“Ih, itu lagi…”
“Pantes dibilang bandel…”
Aku menunduk. Bukan karena malu, tapi karena… ya, mungkin mereka benar.
Di rumah, suasana nggak jauh beda.
“Sini kamu, Hima!”
Nada suara Ayah sudah cukup untuk bikin dadaku sesak.
“Ayah dapat laporan lagi dari guru kamu!”
Aku diam.
“Kamu mau jadi apa kalau sikap kamu begini terus? Nilai juga nggak ada peningkatan!”
Pertanyaan itu.
Selalu itu.
Aku menelan ludah, lalu menjawab pelan, hampir seperti berbisik.
“Aku… nggak tahu, Yah…”
“Apa?!” suara Ayah meninggi.
Dan di situlah semuanya pecah.
“Aku nggak tahu!” suaraku ikut naik, tapi bukan marah—lebih ke putus asa. “Aku nggak tahu aku mau jadi apa!”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku sendiri kaget dengan jawabanku.
Tapi itu jujur.
Aku benar-benar nggak tahu.
Malam itu, aku mengurung diri di kamar.
Lampu redup. Headset terpasang. Lagu mengalun pelan, tapi pikiranku jauh lebih berisik.
Capek.
Di sekolah salah.
Di rumah juga salah.
Aku menarik lutut ke dada, memeluk diri sendiri.
Kalau aku nggak tahu siapa aku…
terus aku harus jadi siapa?
Air mata jatuh tanpa permisi.
Di luar kamar, aku bisa samar-samar mendengar suara Bunda.
“Hima belum keluar dari semalam…”
Lalu suara Ayah, lebih pelan dari biasanya.
“…Ayah terlalu keras.”
Beberapa saat kemudian, pintu kamarku diketuk pelan.
“Hima…” suara Bunda lembut. “Sini cerita sama Ayah Bunda, ya.”
Aku ragu. Tapi akhirnya bangkit juga, membuka pintu.
“Aku… bingung, Bun…” suaraku lemah.
Bunda tersenyum kecil. “Nggak apa-apa.”
Ayah menatapku, kali ini tanpa marah. “Coba saja dulu banyak hal, Hima. Nggak harus langsung tahu jawabannya.”
“Kamu jalan pelan-pelan aja,” lanjut Bunda. “Bunda yakin kamu bakal nemu jalanmu.”
“Dan apapun itu,” kata Ayah, “Ayah tetap bangga.”
Untuk pertama kalinya, aku nggak merasa dihakimi.
Aku merasa… didengar.
“Terima kasih…” bisikku.
Hari-hari berikutnya terasa… sama. Tapi juga sedikit berbeda.
Aku masih duduk di kelas yang sama. Masih mendengar suara guru. Masih menggambar diam-diam.
Tapi sekarang, ada satu hal kecil yang berubah.
Aku ingin mencoba.
Sampai suatu hari, seorang guru baru masuk ke kelas.
“Selamat siang. Saya Pak Zulfi, guru seni kalian.”
Aku nggak terlalu peduli. Tanganku tetap bergerak, mencoret meja seperti biasa.
“Kalau kamu suka gambar…”
Aku berhenti.
Suara itu tepat di sampingku.
Aku mendongak. Pak Zulfi sedang melihat coretanku.
“…kenapa nggak kamu seriuskan?”
Aku bengong.
“Hah?”
Belum pernah ada yang ngomong begitu.
Biasanya, orang cuma bilang aku harus berhenti.
Bukan… lanjut.
Hari itu, aku diajak ke ruang seni.
“Coba tuangkan di sini,” kata Pak Zulfi sambil menunjuk selembar kain.
“Ini… kain batik, Pak?”
“Iya. Coba saja dulu.”
Aku ragu.
Tapi aku coba juga.
Garis pertama terasa aneh. Kaku. Nggak seperti biasanya.
Hasilnya? Jelek.
Aku mengerutkan kening.
“Gagal, Pak…”
Pak Zulfi hanya tersenyum. “Coba lagi.”
Dan aku mencoba lagi
Dan lagi.
Dan lagi.
Untuk pertama kalinya, aku merasa kesal karena gambarku jelek.
Untuk pertama kalinya, aku ingin memperbaikinya.
Malam-malamku mulai berubah.
Bukan cuma mendengarkan lagu dan melamun.
Tapi menggambar.
Menghapus.
Mengulang.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Sampai suatu pagi, di lapangan sekolah—
“Selamat kepada ananda Hima, kelas XI DKV 1…”
Aku hampir nggak memperhatikan.
“…sebagai juara 1 lomba.”
Aku terdiam.
Namaku dipanggil.
Orang-orang bertepuk tangan.
Aku berjalan maju, masih nggak percaya.
Jadi… ini ya rasanya.
Bukan tentang menangnya.
Tapi tentang… akhirnya menemukan sesuatu yang terasa “aku banget”.
Aku masih belum tahu aku akan jadi apa di masa depan.
Tapi sekarang aku tahu satu hal.
Aku sedang mencari.
Dan untuk pertama kalinya…
aku nggak takut lagi dengan itu.

No comments:
Post a Comment